● online
- Kerajinan Kotak Tempat Tisu Kayu Jati Motif Pahat
- Keris Carubuk Ageman Weton Rabu Legi
- Tempat Payung Cukit Kayu Jati
- Keris Brojol Pamor Satrio Pinayungan Istimewa
- Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Pendaringan Kebak Tan
- Keris Buto Ijo Pamor Ceprit Tangguh Majapahit Sepu
- Kotak Penyimpanan Motif Cukit Kayu Jati Alami
- Kotak Tempat Perhiasan Kayu Jati Motif Ukir Khas J
Ringkel Dalam Kalender Jawa
Mengenal Ringkel dalam Kalender Jawa: Warisan Pengetahuan Leluhur yang Mulai Terlupakan
Pendahuluan
Ketika membahas kalender Jawa, sebagian besar masyarakat hanya mengenal weton, pasaran, atau wuku. Padahal, sistem penanggalan Jawa memiliki susunan yang jauh lebih kompleks. Salah satu unsur yang kini mulai jarang dikenal adalah Ringkel.
Di masa lalu, ringkel menjadi bagian dari sistem penanggalan yang digunakan masyarakat Jawa sebagai salah satu pedoman dalam memahami siklus waktu. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui para sesepuh, keraton, hingga berbagai naskah klasik Jawa. Namun, seiring perkembangan zaman, pemahaman mengenai ringkel perlahan memudar dan hanya dipelajari oleh kalangan tertentu.
Artikel ini bertujuan mengenalkan kembali ringkel sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang patut dipahami dan dilestarikan.
Apa Itu Ringkel?
Ringkel merupakan salah satu unsur dalam sistem kalender Jawa yang digunakan sebagai pengelompokan hari dalam suatu siklus tertentu. Dalam tradisi Jawa, ringkel tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian perhitungan kalender bersama unsur lainnya seperti pancawara, saptawara, wuku, neptu, pranata mangsa, hingga windu.
Keberadaan ringkel dapat ditemukan dalam tradisi pawukon dan berbagai kitab primbon, seperti Serat Pawukon dan Primbon Betaljemur Adammakna. Walaupun terdapat beberapa perbedaan penafsiran di berbagai daerah maupun naskah, ringkel tetap menjadi salah satu bagian penting dalam khazanah pengetahuan kalender Jawa.
Fungsi Ringkel dalam Tradisi Jawa
Pada masa lalu, masyarakat Jawa memanfaatkan ringkel sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam membaca siklus waktu. Ringkel tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan, melainkan dipadukan dengan unsur-unsur kalender Jawa lainnya.
Dalam berbagai tradisi, ringkel digunakan sebagai pelengkap dalam menentukan waktu untuk kegiatan adat, bercocok tanam, memulai pekerjaan tertentu, hingga berbagai aktivitas yang dianggap memerlukan pertimbangan hari.
Perlu dipahami bahwa penggunaan ringkel merupakan bagian dari tradisi budaya masyarakat Jawa pada zamannya. Setiap daerah dapat memiliki pakem maupun penafsiran yang berbeda sesuai dengan warisan yang diterimanya.
Enam Nama Ringkel dalam Kalender Jawa
1. Jalma
Melambangkan manusia. Ringkel ini berkaitan dengan kehidupan sosial, akal budi, kepemimpinan, serta hubungan antarsesama.
2. Sato
Melambangkan hewan. Menggambarkan naluri, kekuatan, ketahanan, keberanian, dan kemampuan bertahan hidup.
3. Iwak
Melambangkan ikan. Menjadi simbol keluwesan, kemampuan beradaptasi, ketenangan, dan kelancaran dalam menjalani kehidupan.
4. Manuk
Melambangkan burung. Mewakili kebebasan, cita-cita, perjalanan, komunikasi, serta keluasan pandangan.
5. Wiji
Melambangkan benih. Menjadi simbol awal kehidupan, pertumbuhan, harapan, dan potensi yang sedang berkembang.
6. Godhong
Melambangkan daun. Mengandung makna kesuburan, perlindungan, kesehatan, keseimbangan, dan proses memelihara kehidupan.
Ringkel Sebagai Warisan Budaya
Ringkel menunjukkan bahwa masyarakat Jawa pada masa lalu memiliki sistem pembacaan waktu yang sangat rinci. Kalender tidak hanya dipahami sebagai penanda tanggal, tetapi juga sebagai bagian dari cara memahami keteraturan alam dan kehidupan.
Meskipun saat ini penggunaan ringkel sudah tidak lagi umum, keberadaannya tetap memiliki nilai sejarah, budaya, dan intelektual yang penting. Mempelajari ringkel berarti ikut menjaga salah satu warisan pengetahuan Nusantara agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Penutup
Artikel ini disusun sebagai bentuk edukasi budaya untuk memperkenalkan kembali salah satu bagian dari sistem kalender Jawa yang mulai jarang dikenal masyarakat.
Seluruh pembahasan mengacu pada tradisi dan berbagai naskah klasik Jawa yang membahas sistem penanggalan, seperti Serat Pawukon dan Primbon Betaljemur Ada makna. Perlu dipahami bahwa penafsiran mengenai ringkel dapat berbeda antara satu daerah, naskah, maupun pakem dengan yang lainnya.
Pada akhirnya, artikel ini tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca mempercayai atau mengamalkan suatu keyakinan tertentu. Tujuan utamanya adalah melestarikan pengetahuan budaya dan mengenalkan kembali kekayaan intelektual leluhur Jawa kepada generasi masa kini. Sikap untuk mempercayai ataupun tidak mempercayai sepenuhnya merupakan hak dan keyakinan masing-masing.
Ringkel Dalam Kalender Jawa
Keselarasan Pusaka Ageman dan Weton Kelahiran dalam Budaya Jawa Kuno Dalam khazanah budaya Jawa, pusaka bukan sekadar benda berwujud fisik,... selengkapnya
Keris adalah salah satu pusaka tertua dan paling ikonik di Nusantara. Lebih dari sekadar senjata tikam, keris merupakan simbol jati... selengkapnya
Keris merupakan salah satu mahakarya budaya yang paling dikenal di Nusantara. Di balik bilahnya yang tampak sederhana, tersimpan perpaduan seni... selengkapnya
Mengenal Ringkel dalam Kalender Jawa: Warisan Pengetahuan Leluhur yang Mulai Terlupakan Pendahuluan Ketika membahas kalender Jawa, sebagian besar masyarakat... selengkapnya
Keris Kebo Lajer Pamor Wengkon Isen Ageman Weton Sabtu Pahing Keris Kebo Lajer Pamor Wengkon Isen Ageman Weton Sabtu Pahing… selengkapnya
Rp 2.500.000Brojol Patrem Ageman Minggu Pon Patrem Dhapur Brojol yang menjadi ageman (pusaka pegangan) untuk weton Minggu Pon adalah kombinasi spiritual… selengkapnya
Rp 1.500.000Asbak Beduk Bonggol Jati.Kayu jati adalah kayu keras tropis berkualitas tinggi dari pohon Tectona grandis, terkenal karena kekuatan, daya tahan… selengkapnya
Rp 54.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Pasopati Pamor: Segoro Muncar Tangguh: HB VII Warangka: Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Trembalo
Rp 25.500.000Keris Megantoro Kinatah Emas Pamor Wos Wutah Filosofi keris Megantoro berasal dari dua kata: Mega yang berarti awan atau angkasa… selengkapnya
Rp 35.000.000Jenis Pusaka : Luk 11 Dhapur : Carito Keprabon Pamor : Pulo Tirto Ceprit Tangguh : Mataram Sinopaten Warangka : Gayaman… selengkapnya
Rp 15.500.000 Rp 20.500.000Keris Carubuk Pamor Triman Toyo Mambek Tangguh Majapahit Keris Carubuk Luk 7 Filosofi Keris Carubuk Luk 7 adalah simbol dari… selengkapnya
Rp 6.100.000 Rp 7.300.000Tempat air mineral model bonsai adalah wadah saji air minum gelas (cup) yang dirancang menyerupai pohon bonsai dengan cabang-cabang sebagai penyangga… selengkapnya
Rp 175.000Jenis Pusaka : Luk 7 Dhapur : Megantoro Pamor : Wos Wutah Ceprit Tangguh : Majapahit Deder : Yudhowinatan Bahan… selengkapnya
Rp 35.000.000 Rp 50.000.000Keris Ageman Senin Legi Panji Anom Keris Panji Anom merupakan salah satu pusaka yang sarat akan makna filosofi Jawa, melambangkan… selengkapnya
Rp 3.500.000


YouTube
Whatsapp
Saat ini belum tersedia komentar.